Antara Hamba dan Tuan

Pernahkah kita berpikir jika sebenarnya kita selalu diposisi seorang HAMBA. Banyak orang berpikir bahwa dia adalah seorang pejabat, petinggi kerajaan, pemilik perusahaan, atau mungkin seorang kepala rumah tangga. Dengan posisi tersebut banyak juga orang yang lupa pada posisi yang sebenarnya dan dirinya telah bermain sebagai TUHAN. Mari kita kupas sedikit kesamaan antara posisi jabatan diatas dengan TUHAN.

Seorang Pejabat atau atasan mempunyai otoritas mengatur bawahannya. Seorang atasan bisa memarahi, memberikan pujian, memberikan gaji, atau yang lainnya. Lebih umum lagi jika kita diposisi sebagai seorang majikan atas pembantu rumah tangga kita. Jika dulu masih ada perbudakan seperti seorang majikan dengan budaknya. Pembantu rumah tangga kita akan selalu menuruti semua perintah kita tanpa kecuali. Mereka melaksanakan semua perintah dan tidak melaksanakan semua yang kita larang. Jadi, sepertinya kita ini bertindak seperti TUHAN bertindak kepada makhluknya. Dengan kata lain “We are playing as GOD”.

Bagaimana jika PRT kita melakukan kesalahan dalam bekerja, atau melanggar apa yang telah kita larang. Misalkan kita menyuruhnya mengepel lantai dan ternyata cara mengepelnya salah tidak sesuai dengan kehendak kita. Kemudian misalkan jika kita melarang mereka untuk ngerumpi dengan pembantu tetangga, tetapi masih saja tetap dilakukannya. Apa yang kita lakukan marah, menasehatinya, di diamkan saja, atau tindakan yang lain ? bagaimana jika kesalahan – kesalahan yang diperbuat oleh PRT kita berulang terus dari waktu ke waktu, jengkelkah kita, bertambah marahkah kita, atau kita masih memaafkan mereka dan memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalah mereka ? Pernahkah kita berpikir seperti ini, bahwa kita sebenarnya sering memposisikan diri kita seperti TUHAN?
Kebanyakan dari kita pasti akan marah – marah jika PRT kita melakukan kesalahan, mungkin untuk kesalahan pertama dan kedua masih diberi pengarahan dan nasehat. Jika hal ini terus berulang masihkah kita kita akan memberikan pengarahan dan nasehat ? Saya tidak yakin kita akan melakukan hal yang seperti ini terus menerus. Bagaimana jika PRT kita minta gaji atau tambahan bonus kepada kita, padahal kerja mereka buruk dan tidak mau menuruti perintah kita. Pasti kita tidak akan memberikan bonus atau bahkan mungkin kita akan memecat PRT tersebut. Kejadian seperti ini kita anggap sesuatu yang normal dan wajar bukan.

Seperti halnya jika PRT kita telah bekerja dengan baik, menuruti semua perintah kita dan mentaati semua larangan yang berikan. Tanpa memintapun bonus akan kita berikan kepada mereka. Sama halnya dengan posisi kita sebagai seorang karyawan atau orang malaysia bilang “Orang Gaji” dimana orang bekerja dan digaji sesuai dengan posisinya. Jika kerja kita pada perusahaan baik dan bahkan lebih baik diantara karyawan yang lain, pasti Perusahaan tidak akan tinggal diam. Mereka akan meberikan reward kepada karyawannya yang telah mengabdi kepada perusahaan dengan sangat baik. Reward sebagai karyawan teladan mungkin, atau mendapatkan bonus tahunan lebih banyak dibandingkan karyawan lain.

Dari uraian diatas, secara sadar atau tidak kita telah bermain sebagai TUHAN meski dalam ruang lingkup yang sangat kecil dibandingkan TUHAN itu sendiri. Saat kita melakukan satu kesalahan, TUHAN akan memaafkan kita. Tetapi kita terus melakukan kesalahan dan tidak pernah sadar dan mau memperbaikinya. Bagaimana reaksi TUHAN ? TUHAN masih mau memaafkan kita dan menunggu kita untuk kembali kepada-NYA. Sungguh luar biasa bukan, betapa sayangnya TUHAN kepada kita. Kita sudah melakukan banyak sekali kesalahan, tidak mengindahkan apa yang diperintahkan-NYA, tetap saja melanggar apa yang dilarang-NYA tapi TUHAN selalu memaafkan kita jika kita mau kembali kepada-NYA.

Jika kita punya begitu banyak dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat kepada TUHAN, kemudian kita berdoa untuk meminta ini dan itu dan sangat optimis dan berharap agar TUHAN mengabulkan semua permintaan kita. Apakah kita tidak malu jika kita terus meminta padahal kita juga terus melanggar apa yang diperintah dan melakukan apa yang telah dilarang oleh TUHAN. Apa yang dikatakan TUHAN kepada kita, “Mintalah kepada-KU niscaya AKU akan mengabulkan semua permintaanmu.” Sebegitu besar dan luasnya ampunan TUHAN kepada makhluknya yang terus melakukan dosa. Bagaimana jika sebaliknya, jika kita selalu mentaati semua perintah-NYA dan menjauhai semua larangan-NYA. Tanpa diminta pun TUHAN akan memberikan apa yang kita butuhkan dan kita inginkan. So, intinya jika doa kita ingin didengar oleh TUHAN, kurangi dosa dan mulai taati semua perintah dan jauhi semua larangan-NYA, Simple bukan🙂. Seandainya saja kita sejak awal belajar sebagai seorang HAMBA dan bukan sebagai seorang TUAN, mungkin tidak sulit bagi kita untuk mentaati dan menjauhi semua larangan TUHAN. Mulai sekarang mari kita belajar menjadi seorang HAMBA dan berhenti beraksi menjadi seorang TUAN, tidak peduli posisi kita seorang PRT, Cleaning Services, Karyawan, Staf, Kepala Bagian, Manager, atau bahkan seorang pengusaha sukses atau Presiden. Tetap saja kita ini adalah seorang HAMBA dan akan terus MENGHAMBA sampai waktu yang telah ditentukan.

14 Responses to Antara Hamba dan Tuan

  1. ashardi says:

    just never play God…

  2. andi bagus says:

    jadilah mahkluk tuhan yang lurus..

  3. Nin says:

    Benar sekali.
    Ketika diberi amanah dengan posisi agak tinggi sedikit, kita seringkali langsung merasa ‘hebat’, berkuasa. Padahal Allah adalah sebenar-benarnya Sang Penguasa.
    Astaghfirullahal ‘adzim…..
    Terima kasih sudah mengingatkan

  4. aLe says:

    bersyukur dan ikhlas

  5. andi says:

    ikhlas itu berat mas Ale

  6. senaz says:

    eh..kirain dah ada postingan baru..hihih

  7. T. zulfikar says:

    Tuhan Maha Adil dan Maha Pemurah, namun untuk seorang manusia masih belum tentu adil dan pengampun

  8. estupitarto says:

    Hamba memang boleh minta apa saja kepada TUANnya. Tapi satu hal yang mesti diingat. Jadilah hamba yang tahu diri. bagaimana kita minta hak kita dipenuhi tatkala hak tuan kita tidak kita berikan, walau TUAN kita tak pernah menginginkan apapun dari kita karena DIA PUNYA SEGALANYA.🙂

  9. PKS Kab. Malang Humas says:

    Semoga kita menjadi hamba yang memiliki pemahaman dan amalan

  10. adin beco... says:

    kuncinya,,,
    adalah selalu ingat akan posisi qt sebagai manusia biasa,,
    ketiak baru lahir tidak memiliki kekuaatan apapun,,
    eeehhh,,waktu udah mobil/motor baru,,bisa2 lupa tuch ma yang kuasa,,semua jerih payahnya tu dikira datang dengan sendirinya,,
    maka,,,ingat2lah fitrah sebagai manusai.
    sory kepanjangan,,,

  11. sufimuda says:

    yang terpenting dan teramat penting adalah sang hamba harus benar2 kenal dengan Tuhannya….

  12. tintin says:

    hamba .. kita semua adalah hamba ALLAH ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: